Sabtu, 18 Februari 2012

Cerpen Cinta Adik Ku

Cinta Adikku
“Mbak kenalin, ini Mutia …Mutia ini Mbak Rieka…”

Aku mendongak dari kertas kerjaku mendapati Ben adikku dan seorang gadis di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya kepadaku.

“Hai,…aku Rieka, mudah mudahan Ben cerita yang baik baik saja tentang aku..”selorohku sambil mataku menyisir gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ben cerita tentang Mbak baik semua kok Mbak..” gadis itu menuai senyum.

Ben mengajak Mutia ke ruang keluarga meninggalkan kamar kerjaku setelah sedikit berbasa basi aku meneriakkan Surti menghidangkan minuman.

Melihat mereka keluar aku tersandar di kursi kerjaku. Tulisan yang sejak sejam lalu berusaha kurampungkan terabaikan.

Kuperhatikan punggung mereka berdekatan di depan TV di ruang keluarga. Kulit Ben yang putih bersih begitu kontras dengan Mutia, gadis itu. Menurut ku seperti iklan Benetton.

Aku berpikir apakah Ben sedang mabuk atau kena trauma di suatu tempat, sehingga belakangan ini ceritanya padaku melulu soal Mutia yang ditemuinya di kampus. Dalam bayanganku selama ini, gadis bernama Mutia itu..pastinya cantik, berkulit putih bersih, berambut lurus berkilau seperti iklan shampoo. Minimal tidak kurang cantik dengan mantan mantan Ben yang dulu ; Shirley yang wajahnya kerap muncul di cover majalah ,Mitha pramugari sebuah Maskapai nomor satu di Indonesia, Clara dan Susan, dua nama terakhir itu teman sekampusnya. Aku pernah sampai pusing menerima puluhan sms dari gadis gadis itu ,meratapi hubungannya dengan Ben yang kandas satu persatu.

Ben adikku memang berbeda. Wajahnya mewarisi wajah Papa. Hidungnya bangir, kulitnya bersih dengan garis laki laki yang membuatnya terlihat begitu jantan. Dia seperti pangeran pangeran tampan di komik komik jepang. Tubuhnya begitu atletis padahal ia tidak begitu rajin meluangkan waktunya untuk kebugaran. Berjalan dengan Ben di pertokoan terkadang membuatku risih juga, karena pastinya beberapa pasang mata akan menoleh kesekian kalinya pada Ben, bahkan para pencari bakat yang gemar duduk duduk di Mall untuk mencari bintang bintang baru kerap menyambangi kami. Ben Cuma tertawa dan bilang tidak.

Kini Ben kembali memperkenalkan seorang gadis yang dicintainya padaku. Apa yang kubayangkan tentang seorang Mutia buyar sudah. Yang dibawa Ben ke hadapanku bukan seorang gadis cantik berparas bak manekin di toko baju, tapi seorang gadis biasa. Sangat sangat biasa. Tidak semampai, rambutnya tidak terurai lurus berkilau tapi ikal dan tambah aneh dengan diikat bergelung, dan berkulit hitam.

“Mbak, kita mau pesan Pizza, Mbak mau apa?” tiba tiba Ben sudah di hadapanku lagi, berdiri dengan tubuhnya yang menjulang atletis. Adikku yang ganteng ini.

“Mbak…Mbak nggak kenapa kenapa kan?”

Aku berdehem mengusir halusinasiku barusan. Walaupun itu nyata bukan ilusi belaka.

“Ben, itu…Mutia yang itu ..kan?”

Alis mata Ben bertaut, kelihatan sekali ia bingung. Ia melirik ke arah ruang TV dimana Mutia-nya masih duduk manis di situ.

“Ya…iya…yang belakangan ini aku cerita ke Mbak…pacarku….kenapa sih..?”

“Ooh…ya nggak apa apa…”kataku sambil memusatkan pandangan ke laptop.

“Mbak pesenin salad saja,Ben…”

Ben berlalu lagi dari hadapanku. Aku menatap punggungnya gamang.

————–ooOOoo———————

Memangnya waktu itu kenapa putus dengan Ben?

Aku menekan tombol send pada ponselku. Dan gambar amplop terbang muncul di layar. Baru saja aku membalas sms dari Susan, pacar terakhir Ben sebelum Mutia. Susan masih uring uringan dan belakangan sering berbasa basi menelponku atau kirim sms sekedar ingin tau perkembangan mantan pacarnya, adikku. Aku selalu meladeni teman teman Ben dengan sabar, karena menurutku sebagai kakak aku harus bisa masuk ke ke hidupan adikku, aku harus bisa menjadi teman bagi Ben, menjadi kakak dan bahkan menjadi ibu. Karena kami Cuma tinggal berdua semenjak Papa dan mama meninggal tiga tahun lalu.

Ponsel ku mengeluarkan bunyi Bip Bip dua kali.
Ben naksir anak fakultas lain,semenjak kenal itu cewek sifatnya berubah drastic padaku,Mbak. Namanya Mutia. Sudah dikenalin,Mbak?

Hee…?? Ben bisa berpaling dari Susan yang wajahnya lebih cantik dari model iklan sabun di TV ..karena Mutia?

Aku meletakkan ponselku di sisi laptop. Menerawang ke luar jendela kantorku yang berada di lantai dua puluh.

Ada apa dengan adikku. Kenapa seleranya jadi drop begitu. Kalau dia akan bilang karena cinta aku akan berpaling muka menyembunyikan senyum sinisku. Aku tak percaya cinta bisa membuat buta mata.

Belum lagi, Ben harus berhadapan dengan keluarga besar kami. Aku tak mau membayangkan apa yang ada dalam kepala mereka jika suatu saat Ben ternyata serius dan memperkenalkan Mutia.

Sepertinya aku harus bicara dengan Ben. Mungkin Ben bisa memberikan alasan yang bisa membuatku mengerti tentang pilihannya.

“Ben,temenin Mbak ngopi yuk…”sapaku lewat ponsel.

Kami bertemu setengah jam kemudian di coffee shops lantai dasar kantorku.

“Ben, Mbak mau Tanya….kamu tuh beneran sama Mutia..?” aku mengaduk cappuccino ku tanpa memandang wajah adikku.

“Bener Mbak….nggak ada yang salah kan sama dia..?”

“Memang nggak ada yang salah sih Ben,..Cuma kok yang ini beda sekali sama pacar pacar kamu dulu….”

“Bedanya..?”

Aku meneguk minumanku. Apa yang ada dalam pikiran Ben saat ini. Dia bertanya bedanya padaku..??

“Hm…yaa secara..secara…penampilan begitu…”

“Fisik?”

“Yaa begitulah, tumben banget kamu pilih yang tipe ini….sampai bisa bikin kamu mutusin Susan?”

Ben terkekeh pelan. Wajah tampannya terlihat memerah sedikit. Tepatnya merona merah. Rasanya dulu waktu pun ia pacaran dengan si model Shirley dia tidak pernah merona rona merah seperti ini, persis ABG yang baru merasakan jatuh cinta.

“Susan nggak ada apa apanya dengan Mutia Mbak….dan yang minta putus itu Susan…bukan aku”

Aku hampir tersedak waktu Ben bilang Susan nggak ada apa apanya dibanding Mutia,sembari kuingat ingat apakah sebetulnya Ben mengatakan sebaliknya cuma aku salah dengar? Harusnya Mutia yang nggak ada apa apanya dibanding Suzan?

“Dalam hal apa Susan nggak ada apa apanya dibanding Mutia?”

Ben memandangku, rona merahnya sudah hilang. Kali ini yang menatapku adalah mata serius nya.

“Aku nggak bisa mendefinisikannya Mbak…semuanya dari hati sih….Pokoknya Mutia the best buat aku..susah ya dijelasin,Mbak..”

Dan sore itu berlalu tidak seperti yang kuharapkan. Tetap saja aku tidak mendapatkan jawaban yang logis. Kalau atas nama cinta aku tidak bisa menerima dalam pikiran sehatku.

Semenjak sore itu, Ben makin sering membawa Mutia ke rumah, dan semakin dalam ketidakpercayaanku akan apa yang di lihat Ben dari Mutia. Gadis itu pendiam pula, dengannya lebih banyak aku yang bertanya dan bicara. Dan dia hanya menjawab apa yang kutanyakan selebihnya hanya senyumnya mengembang.

Gadis itu pencinta alam, dia sudah mendaki Everest bersama tim pendaki kampusnya. Terlihat sih di tangan tangannya yang berurat. Dan kalau sedang digenggam oleh tangan Ben aku lebih baik tidak melihatnya. Terlalu kontras. Kadang terpikir untuk memberikan ide perawatan kulit buat Mutia pada Ben, misalnya ikut therapy memutihkan kulit, menghaluskan dan sebagainya. Tapi selalu urung kulontarkan.

Mutia terlihat sangat mencintai Ben. Pasti lah. Ben ganteng dan walaupun kami yatim piatu kami masih bisa hidup serba berkecukupan dengan peninggalan orang tua kami. Kami tak kurang suatu apapun.

Gadis itu terkadang datang sendiri, dan tidak selalu pada saat Ben ada di rumah. Misalnya sehabis mengajar anak anak jalanan di rumah singgah dia suka mampir ke rumah.

Seperti hari ini ketika aku sudah dua hari tidak bisa masuk kantor karena vertigo ku kumat. Maklum, bekerja kadang tak kenal waktu dan tidak cukup memanjakan tubuh dengan istrirahat.

Mutia datang dengan menenteng satu kotak donut. Pandanganku masih berputar putar ketika gadis itu menghampiriku di kamar.

“Mbak, makan yuk….” Katanya sambil menyentuh lenganku dengan telapak tangannya yang mungkin tidak pernah tersentuh hand body lotion.

Aku menggeleng,sejak tadi aku sibuk mencari posisi berbaring yang enak supaya mual dan peningku tidak menjadi jadi, “Nggak Mut….belom bisa makan…kamu dari mana?”

“Dari habis ngajar ,Mbak…Mbak ada obat yang harus diminum nggak, biar ku ambilkan?”

Aku menggeleng, dalam keadaan mata tertutup pun semua yg kurasakan berputar hebat.Isi perutku bergejolak ingin keluar.

“Mut…mbak mau…”

Hoeekkk !! Aku terlonjak kearah Mutia dan keluarlah isi perutku. Aku bisa melihat muntahku membasahi baju dan roknya.

Mutia membantuku duduk dan mengurut leherku lembut,”Keluarkan semuanya mbak, muntahkan saja, supaya lega…muntahakan saja Mbak!”

Aku masih muntah beberapa kali. Mutia menggapai minyak angin dan menggosokkannya ke leher dan kepalaku. Tubuhnya basah sudah. Oleh mutahku. Yang aku sendiri jijik, tapi ekspresi wajah gadis itu biasa saja. Tidak sedikitpun tersirat rasa jijik atau geli. Dengan sigapnya ia menggantikan bajuku dan mengelap bekas bekas muntahku dibantu Surti yang baru datang beberapa menit terakhir.

Aku merasakan kelegaan di kepala dan perutku.

“Mut..maaf kamu jadi kotor begitu…ambil saja baju Mbak..pakai dulu Mut…” ujarku.

Mutia masuk ke kamar mandi yang letaknya di dalam kamarku dan keluar dengan mengenakan baju rumah milikku. Wajah dan tubuhnya sudah bersih, dan dia kembali duduk di sisiku.

“Mut maaf ya jadi ngerepotin kamu…”aku merasa betul betul sungkan. Kalau aku jadi dia mungkin aku sudah ikut muntah muntah di tempat karena jijiknya.

“Ah Mbaak nggak apa apa kok…namanya juga sedang sakit. Mbak mesti isi perut tuh kan sudah keluar semua isinya…”

Aku menemukan sorot mata yang lembut di balik poninya yang tidak menarik itu, begitu lembut dan bening. Begitu tulus.

Ketika sore Ben pulang dari kampus dan bingung mendapatiku dan Mutia mengobrol akrab di kamarku dan Mutia dengan mengenakan bajuku.

Ada binar binar di mata adikku itu. Entah haru entah apapun. Dan rona merah itu menyemburat lagi.

Dan ketika Ben pamit untuk mengantar Mutia pulang aku mengiyakan dengan tulus. Kali ini betul betul tulus tanpa ada banyak pertanyaan di pikiranku. Aku merangkul Mutia. Entah kenapa aku ingin melakukan itu. Aku bisa merasakan aroma shampo samar samar dari rambutnya, yang kutahu pasti bukan shampoo mahal seperti yang kupakai.

Sekali lagi kuucapkan terimakasih yang tulus padanya. Mutia hanya tersenyum saja. Dan aku baru menyadari juga kalau senyum nya itu begitu biasa tapi penuh keihlasan.

————————oooOOooo—————-

Malamnya Ben pulang dari mengantar Mutia dan langsung kupanggil masuk ke kamarku.

“Ben…antar Mutia sampai rumah kan?”

Ben mengangguk,”Kenapa Mbak…”

“Mutia cerita nggak kejadian siang ini…”

Ben adikku memandangku dengan wajah bingung,”Cuma bilang Mbak pusing pusing dan muntah aja…”

Hmm…gadis itu bahkan tidak menceritakan betapa menjijikkannya mendapat hadiah muntahanku ke seluruh baju dan roknya.

“Ben…sekarang Mbak ngerti kenapa kamu mencintai Mutia….dia..memang beda…”

Adikku duduk di hadapanku dengan kening bertaut,”Mbak, sebetulnya Mutia belum bilang menerimaku…dia Cuma bilang jalanin aja dulu yang bisa kita jalani…nggak perlu mengumbar kata kata cinta atau apalah…”

Wow…!

Mungkin buat seorang gadis biasa seperti Mutia, kata kata cinta itu tidak perlu. Sementara perempuan lain di sekitar Ben sangat ingin mendengar kata itu keluar dari mulut Ben dan akan segera menganggukkan kepala.

Mungkin kata kata cinta justru membuat gadis itu jengah?

Sekarang aku mengerti apa yang ada dalam kepala adik laki lakiku. Dan memang ternyata Shirley atau Susan atau siapaun tidak ada apa apanya dibanding Mutia.

“Kamu jaga saja hubungan kamu Ben,…dia gadis yang baik..Kakak mengakui deh…” ujarku pelan,”soal fisik…hmm kulitnya itu…mungkin …bisa pakai braso atau apa gitu…supaya lebih cemerlang….buktinya..pajangan Mama yang menghitam saja bisa lebih bersih pakai braso…”

Ben memapahku ke tempat tidur seolah aku sedang sakit parah,”Mbak perlu istirahat banyak nih mbak…” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar